Senin, 27 Agustus 2012

Cowok Ganteng






Ini kisah waktu aku masih muda dulu (bukan berarti sekarang udah tua yaa!!). kisah ini terjadi ketika aku masih duduk di bangku SMA. masih berdarah muda dan masih suka ngejailin orang (bukan berarti sekarang gak lagi!!).

Jaman SMA dulu aku dan teman dekatku, sebut saja namanya Fitriah (dia paling benci kalau namanya kita sebut dengan penekanan pada huruf H terakhir, keliatan gak kota gitu namanya... katanyaaa...) punya hobi yang sama, yaitu ngecengin cowok ganteng. Haduhh malunya punya hobi kok kayak gini. Karena punya hobi yang sama, aku dan Fitri suka JJS bareng. Setiap sore hari aku pasti ngejemput Fitri di rumahnya terus kami 'cuci mata' keliling kota.

Disinilah cerita dimulai... sedang muter-muter kota gak jelas, kami berdua melihat sesosok cowok ganteng mirip Alung. Cowok macho dengan motor gede dan badan binaragawan, Alung abiiisss deh pokoknya. pada tau gak siapa Alung? Alung itu pemeran sinetron 'Alung' yang dia adalah seorang warga keturunan Chinese yang juga seorang muallaf. gantengnyaaaa ituuuu.... Subhanallah...



Sejak itulah kami makin semangat muter-muter kota berharap ketemu lagi sama sosok Alung tersebut. Begitulah kami memanggilnya, habis gak tau sih siapa namanya. Herannya, setiap kali JJS hampir dapat dipastikan kami bertemu dengannya. Dan muncullah ide gila itu. Kami mengikutinya alias membuntutinya alias menguntitnya. Dan bukanlah perkara gampang membuntuti motor gede yang dibawa kenceng sama pengemudinya, aku yang di boncengi Fitri udah terbang-terbang gak karuan gara-gara ngikutin tuh cowok.

Ternyata Alung memasuki sebuah lorong sempit dan kami pun tetap mengikutinya. Sialnya, tuh lorong buntu!! Dia memarkirkan motornya di depan sebuah rumah sederhana tapi bagus. malu dikit gak pa-pa, yang penting udah tau rumahnya dimana.

So.. what next?
Udah tau rumahnya, terus buat apa?main ke rumahnya? Ya enggak laahh.... masak anak SMA main ke rumah abang-abang yang umurnya sekitar 30-an. apa kata duniaa??
Dan..... ide yang lebih gila muncul lagi di otakku. aku membisikkannya ke Fitri. yang lebih gila lagi, Fitri mengamininya. Duet kacaauuu......

Dan disinilah kami sekarang.... di rumah Alung. Sedang berhadapan dengan sesosok wanita tua yang mengaku sebagai ibunya. Syukurnya, Alung sedang gak di rumah. jadi kami bisa menjalankan rencana kami.

"Maaf bu, sebenarnya kami mau nganterin paket buat teman abang kami. Kata abang kami rumahnya disini, temannya itu badannya besar kaya binaragawan gitu bu, terus motornya gede. Beneran bu ada ciri-ciri orang kayak gitu di rumah ini?" tanyaku. Heran darimana datangnya keberanian gila ini. Edaaannnn...

"Kalau ciri-cirinya gitu, bener itu anak saya. tapi sekarang dia udah pergi. ke tempat fitnessnya." Kata sang ibu.
"Apa nama tempat fitnessnya bu?" Tanya sang Fitri penasaran.
"For you, di samping kolam renang Tirta Raya."
Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
"kenapa gak dititip aja paketnya sama ibu?"
"Ohh....kami gak bawa paketnya bu, takut salah rumah,soalnya paketnya besar, susah kalau dibawa-bawa." Spontan aku menjawab pertanyaan si ibu yang diluar dugaan. kalau nunggu Fitri yang jawab, pasti lamaaaaa...
"Karena itu bu, kami perlu nomor telepon rumah ibu, jadi kami bisa ngomong langsung sama abang itu. siapa namanya bu?" tanyaku lagi.
"Yatno, nomor telepon rumah 54321" (Anggap aja namanya Yatno, aku lupa nama aslinya).

Yesss.... Misi terlaksana. akhirnya kami pamitan sama si ibu.
Tapi tiba-tiba...
"oh yaa.. nama abang kalian siapa?"

Hening..... Gak ada nama yang nyangkut di kepalaku. dan jangan sampek aku nyebutin nama abang kandungku. Dia gak tau apa-apa Ya Allah, jangan libatkan dia dalam dosa ini. Aku sengaja diam aja gak menjawab pertanyaan si ibu. Biar Fitri aja yang jawab, dari tadi aku terus yag ngomong. Kalau Fitri yang jawab, mungkin aja nama abangnya yang disebut.

Setelah agak ganjil dengan keheningan yang lama... akhirnya Fitri menjawab.
"DERI bu...nama abang kami Deri. Dia kuliah di STT Telkom Bandung sekarang."
Sialan nih Fitri... dia nyebut nama abangku, lengkap lagi dengan kampusnya tanpa ditanya.
Aku melemparkan pandangan keki untuk Fitri, tak lupa dengan hendusan benteng marah.

Sepanjang jalan pulang aku hanya merengut saja. Sedang Fitri bersiul-siul senang.
"Tenang aja Lola... apalah arti sebuah nama. yang penting kita dapat nomor teleponnya buat di telepon setiap malam."
Hehehee.... membayangkan telpon-telponan dengan Alung tiap malam. keki ku pun hilang... Kayak kerbau ketemu rumput.

Dan cerita tentang membuntuti cowok ganteng bukan hanya sekali ini saja. Akan aku lanjutkan di Cowok Ganteng jilid 2.
Semoga.....

1 komentar:

  1. hahahahahaha.......gokil qe la...edan...edannn

    BalasHapus